Selasa, 07 April 2009

Membuat Rencana Menjadi Kaya

Seberapa cepatkah anda menjadi kaya?

Jika anda mau membangun rumah maka sebagian orang akan memanggil arsitek dan arsitek itu bersama anda membuat rencana. Tetapi ketika orang yang sama memulai membangun kekayaan mereka atau merencanakan masa depan, mereka tidak pernah mendesain rencana finansial untuk hidup mereka. Mereka tidak mempunyai garis besar rencana kerja untuk menjadi kaya. Bahkan banyak orang tidak mempunyai rencana, mereka hanya menjalani hidup saja dan hanya bermimpi sewaktu-waktu mereka akan menjadi kaya. Banyak juga orang yang menggunakan satu-satunya jurus andalan, yaitu merencanakan untuk bekerja keras dan mereka tidak pernah kaya. Karena apa yang mereka kerjakan sekeras apapun memang tidak memungkinkan mereka untuk menjadi kaya.

Contoh, menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan, walaupun sekeras apapun mereka bekerja akan sulit sekali untuk menjadi kaya.

Ada juga orang yang mempunyai rencana yang lambat untuk menjadi kaya, rencana tersebut yaitu bekerja keras dan menabung. Dengan mengikuti rencana tersebut maka jutaan orang akan menghabiskan hidupnya dengan memandang keluar jendela dari kereta mereka yang lambat atau dari mobil mereka yang terjebak dari kemacetan lalu lintas menyaksikan limosin, helikopter, pesawat jet perusahaan, rumah- rumah mewah.

Dan yang paling menyedihkan ada juga orang yang mempunyai rencana untuk menjadi miskin. Begitu banyak orang mengucapkan kata-kata seperti ayah miskin Robert Kiyosaki “Ketika saya pensiun, maka penghasilan saya akan berkurang”. Dengan kata lain mereka merencanakan untuk bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin.

“Saya membutuhkan kecepatan.” Kata Tom Cruise dalam Film Top Gun.

Ide bekerja seumur hidup, menabung, dan menaruh uang dalam rekening pensiun merupakan rencana yang sangat lambat. Rencana ini bagus dan masuk akal oleh 90% orang tetapi bukan rencana bagi orang yang ingin pensiun muda dan pensiun kaya.

Berikut adalah beberapa ide tentang cara untuk membangun rencana yang lebih cepat:


Seberapa cepatkah anda menjadi kaya?

Jika anda mau membangun rumah maka sebagian orang akan memanggil arsitek dan arsitek itu bersama anda membuat rencana. Tetapi ketika orang yang sama memulai membangun kekayaan mereka atau merencanakan masa depan, mereka tidak pernah mendesain rencana finansial untuk hidup mereka. Mereka tidak mempunyai garis besar rencana kerja untuk menjadi kaya. Bahkan banyak orang tidak mempunyai rencana, mereka hanya menjalani hidup saja dan hanya bermimpi sewaktu-waktu mereka akan menjadi kaya.

Banyak juga orang yang menggunakan satu-satunya jurus andalan, yaitu merencanakan untuk bekerja keras dan mereka tidak pernah kaya. Karena apa yang mereka kerjakan sekeras apapun memang tidak memungkinkan mereka untuk menjadi kaya.

Contoh, menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan, walaupun sekeras apapun mereka bekerja akan sulit sekali untuk menjadi kaya.

Ada juga orang yang mempunyai rencana yang lambat untuk menjadi kaya, rencana tersebut yaitu bekerja keras dan menabung. Dengan mengikuti rencana tersebut maka jutaan orang akan menghabiskan hidupnya dengan memandang keluar jendela dari kereta mereka yang lambat atau dari mobil mereka yang terjebak dari kemacetan lalu lintas menyaksikan limosin, helikopter, pesawat jet perusahaan, rumah- rumah mewah.

Dan yang paling menyedihkan ada juga orang yang mempunyai rencana untuk menjadi miskin. Begitu banyak orang mengucapkan kata-kata seperti ayah miskin Robert Kiyosaki “Ketika saya pensiun, maka penghasilan saya akan berkurang”. Dengan kata lain mereka merencanakan untuk bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin.

“Saya membutuhkan kecepatan.” Kata Tom Cruise dalam Film Top Gun.

Ide bekerja seumur hidup, menabung, dan menaruh uang dalam rekening pensiun merupakan rencana yang sangat lambat. Rencana ini bagus dan masuk akal oleh 90% orang tetapi bukan rencana bagi orang yang ingin pensiun muda dan pensiun kaya.

Berikut adalah beberapa ide tentang cara untuk membangun rencana yang lebih cepat:

1. Pilih strategi keluar anda terlebih dahulu . Kita harus mulai dari yang akhir, seperti yang dikatakan oleh Steven R. Covey dalam bukunya Seven Habits. Jadi kita harus menentukan dulu umur berapa kita ingin pensiun, berapa banyak uang yang kita miliki saat itu, atau berapa banyak pasif income kita pada waktu kita pensiun. Kemudian dalam logika saya sendiri maka kita harus;

2. Cari bidang apa yang kita suka atau mungkin kita akan suka yang bisa menghasilkan seperti yang kita tentukan sebelumnya. Apabila apa yang kita kerjakan sekarang tidak memungkinkan kita mencapai impian tersebut, Let It Go!

3. Kita cari orang yang sudah berhasil mencapai impian kita untuk diajak kerja sama
atau belajar kepada orang tersebut.

4. Gunakan faktor kali atau leverage.

Maksudnya kita bisa menggunakan RICE (Resources, Ide, Contact, Expertise) dari orang lain.

Sudahkah anda membuat rencana anda untuk menjadi kaya, dan seberapa cepatkah rencana anda?

Untuk melengkapi rencana Anda menjadi Kaya silahkan download materi tambahan :
eBook gratis 24 Prinsip Miliarder yang mencerahkan oleh Tung Desem Waringin
silahkan klik disini : http://www.tdwuniversity.com

Semoga bermanfaat.


Selengkapnya......

Mengapa yang kaya Semakin Kaya

Kenapa orang kaya semakin kaya, karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan).

Kenapa orang kaya semakin kaya, karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan). Penghasilan yang lebih ini diinvestasikan kedalam asset (beli saham yang menghasilkan deviden, rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang disewakan, sarang walet, usaha-usaha yang menghasilkan, dll). Sedemikian sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.

Kenapa orang menengah bergumul terus secara financial? Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka dia mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran. Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.

Kenapa orang miskin bablas miskin ?

Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran.

Contoh :

Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang besar, beli jamnya yang mahal, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dll.

Pertanyaannya :

Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?

Untuk melengkapi pembelajaran Anda silahkan Anda download eBook Gratis :
24 Prinsip Miliarder yang Mencerahkan oleh Tung Desem Waringin senilai Rp. 250.000,-
atau klik disini : http://www.tdwuniversity.com

Selengkapnya......

Tips Bertumbuh Semakin Kaya

Kekayaan adalah sama dengan kemampuan untuk terus bertahan hidup dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja.

Kekayaan adalah sama dengan kemampuan untuk terus bertahan hidup dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja.

Penelitian yg dilakukan oleh Gallup International menunjukkan bahwa rata-rata eksekutif ibukota & Asia kaya mampu bertahan 90 hari dengan gaya hidup yang ada apabila besok dia berhenti kerja. Setelah itu mereka harus mulai menjual asset atau berhutang.

Kaya adalah relatif. Sebagian orang merasa kaya ketika mempunyai uang 10 juta rupiah. Sebagian orang merasa tidak kaya walaupun sudah memiliki uang 10 milyar. Menurut majalah Forbes kaya adalah orang yang mempunyai penghasilan 1 juta US keatas setahunnya. Sedangkan menurut Robert T. Kiyosaki yang mengutip dari gurunya Buckminster Fuller bahwa kaya adalah bukan berapa besar active income anda melainkan kaya adalah apabila passive income lebih besar dari biaya hidup. Yang dimaksud passive income disini adalah uang yang masuk tanpa harus bekerja.

Sebagai perbandingan Mike Tyson, dia menghasilkan 300 juta USD sewaktu bertinju, tapi hari ini bangkrut dan masih berhutang 35 juta USD. Maka sebetulnya Mike Tyson bukan termasuk kaya, termasuk pula di dalam kategori orang yang bukan kaya adalah orang-orang yang punya penghasilan 1 Juta USD/tahun namun pengeluarannya 1,2 juta USD/tahun.

Pertanyaan penting kali ini adalah:

1.) Bila besok anda berhenti kerja, berapa lama anda dapat bertahan hidup dengan gaya hidup anda sekarang tanpa harus menjual asset-asset anda?

2.) Lalu bagaimana kita bisa kaya menurut versi Robert T. Kiyosaki dimana passive income lebih besar dari biaya hidup?

Jadi sebetulnya menurut Robert T. Kiyosaki, kaya adalah bagaimana menciptakan passive income lebih besar dari biaya hidup.

Cara membuat passive income:

- Royalti dari hak cipta
- Rumah yang disewakan/ dikostkan
- Saham-saham yang menghasilkan deviden
- Reksadana
- Usaha-usaha yang menghasilkan

Buatlah rangkaian rencana sumber pasif income anda. Sesuatu yang anda sukai dan dapat anda kerjakan sementara anda mengerjakan apa yang anda kerjakan sekarang. Dan untuk mendapatkan materi tambahan eBook gratis "24 Prinsip Miliarder yang Mencerahkan" senilai Rp. 250.000,- oleh Tung Desem Waringin bisa Anda download di :
http://www.tdwuniversity.com

Selengkapnya......

Selasa, 27 Januari 2009

Keunikan Struktur dan Pola Kalimat

Ditinjau dari susunan dan strukturnya, kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm merupakan kalimat yang tidak lengkap. Dalam semua logika dan kaidah tatabahasa, suatu kalimat dikatakan telah lengkap dan sempurna apabila memenuhi dua atau tiga unsur primer yang terdiri dari subjek, predikat dan objek.

Contoh kalimat sempurna misalnya:

Aku membaca Al Qur’an.
S P O

Tetapi jika seorang sahabat anda tiba-tiba berkata: “Dengan pinsil yang runcing dan yang panjang”, Anda tentu merasa bingung karena tidak mengetahui maksudnya, sebab kalimat itu tidak sempurna atau tidak lengkap. Seandainya ia mengatakan: “Aku menulis surat itu dengan pinsil yang runcing dan yang panjang” Anda tentu akan dapat langsung memahami maksudnya, karena struktuk (pola) kalimat itu lengkap, seperti yang digambarkan dalam skema berikut:

Aku menulis surat itu dengan pinsil yang runcing dan yang panjang
S P O Keterangan

Jika kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm dimasukkan ke dalam pola seperti di atas, akan menjadi:

??? ??? ???? dengan nama Allah Yang Pengasih Penyayang
S P O Keterangan

Kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm dapat dikatakan lengkap jika difahami bahwa terdapat kalimat yang “seolah-olah” tidak disebutkan atau dibuang (makhdzuf), yang dalam contoh pola kalimat di atas direpresentasikan dengan simbol tanda tanya (???). Dikatakan seolah-olah, karena secara tekstual (manthuq dzahîr) Al Qur’an tidak menyebutkan demikian. Oleh karena itu maka ditinjau dari susunan dan kedudukan kalimatnya, kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm menjadi kalimat keterangan dari --atau berfungsi menerangkan-- suatu kalimat yang tidak disebutkan sebelum atau sesudahnya.
Konsekuensi logis dari kesimpulan ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana isi dan bentuk atau bunyi kalimat yang tidak tersebutkan itu. Secara tersurat tidak ada penjelasan mengapa tidak ada kalimat yang diterangkan sebelum atau sesudahnya. Tetapi ada titik terang untuk menelusuri penjelasannya dari tiga ayat yang lain. Diantaranya adalah firmanNya:

Ia berkata:”Wahai para pengikutku, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku kitab yang mulia, sesungguhnya kitab yang mulia itu dari Sulaiman. Dan sesungguhnya kitab itu (diawali) bismillâhirrahmânirrahîm. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku dengan berserah diri. QS. 27 An Naml : 29-31.

Ayat di atas memberikan informasi yang sangat jelas bahwa Nabi Sulaiman mengawali kitab atau suratnya dengan menulis Bismillâhirrahmânirrahîm. Sejauh yang dapat penulis fahami, maksud yang dituju Nabi Sulaiman dengan pencantuman Bismillâhirrahmânirrahîm pada awal suratnya itu adalah bahwa ia menulisnya karena atau atas nama Allah bukan atas nama dirinya. Sehingga bentuk dan isi tulisannya itu kira-kira menjadi :

(Aku tulis surat ini ) atas nama Allah Yang Mahapengasih Maha Penyayang.
Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.

Penjelasan kedua dapat ditemukan dalam firmanNya:

Dan ia berkata: ”Naiklah kalian ke dalamnya (diawali) bismillâh di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku sungguh Mahapengampun Mahapenyayang. QS. 11 Huud : 41)

Dari ayat di atas dapat ditarik suatu pengertian bahwa ketika akan atau bertepatan dengan menaiki bahtera kalimat Bismillâhi majrîhâ wa mursâhâ dibaca sebagi penyertaan dan doa untuk mohon pertolongan kepada Allah. Kalimat imperatif (perintah) dari Nabi Nuh dalam ayat di atas, mengandung pengertian dalam bentuk kalimat:

”Naiklah kalian ke dalamnya disertai dengan menyebut dan mengingat nama Allah agar kalian dilindungiNya ketika berlayar dan berlabuhnya bahtera ini”.

Sedangkan niat atau maksud dari para sahabat Nabi Nuh setelah mendengar perintah itu kemungkinan maknanya adalah

”Dengan nama Allah kami memohon perlindungan dan keselamatan kepadaNya di saat berlayar dan berlabuhnya bahtera ini”.

Penjelasan ketiga dapat ditemukan dalam firmanNya:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. QS. 96 Al ’Alaq : 1

Ayat ini (tanpa mengaitkannya dengan ayat lain demi untuk membatasi masalah) tidak menerangkan apa yang harus dibaca. Objek yang diperintahkan Allah yang dapat dipahami dari ayat ini adalah membaca atau pembacaan, yang harus disertai dengan menyebut nama Allah yang telah menciptakan. Kebalikannya adalah dilarang membaca apapun tanpa diiringi dengan mengingat atau menyebut namaNya. Kedudukan kalimat dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan tidak menjadi objek bagi kalimat sebelumnya yaitu kalimat: bacalah!, tetapi menjadi keterangan. Jika menjadi objek kalimatnya akan menjadi bacalah nama Tuhanmu yang telah menciptakan (iqra’ isma robbikalladzî khalaqo) dengan membuang huruf bi di depan lafad ism.
Bertitik tolak dari tiga ayat di atas, sebelum kalimat Bismillâh ada tiga kalimat yang diterangkannya. Diantaranya adalah kalimat: ”Aku menulis surat ini” dalam kisah Nabi Sulaiman, kalimat: ”Aku menaiki bahtera ini” dalam kisah Nabi Nuh, dan kalimat: ”Bacalah” atau ”Aku membaca” dalam kisah Nabi Muhammad. Dari tiga contoh kasus ini semakin jelas bahwa kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm kedudukannya menjadi kalimat keterangan bagi kalimat sebelumnya atau mungkin sesudahnya.

Jika Anda kembali bertanya tentang isi dan bentuk kalimat apakah yang diterangkan oleh kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm pada setiap awal surat Al Qur’an, jawabannya adalah tidak ada kalimat apapun, selain karena memang tidak ada, juga karena Allah tidak menyebutkan dan tidak menjelaskannya secara langsung. Tetapi pelajaran dan hikmah yang dapat diperoleh adalah bahwa Allah telah menunjukkan kepada manusia, bahwa kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm bersifat simple, elastis dan fleksibel untuk dapat selalu dibaca sebelum beraktifitas, untuk dapat direnungkan dan dihayati sebagai bekal penguat jiwa dan spirit kita seperti yang telah diteladankan oleh Nabi Nuh, Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad Saw.

Menurut analisa gramatika, kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm merupakan bentuk kalimat yang tidak lengkap karena tidak memiliki subjek dan predikat (sebagaimana dalam kaidah bahasa arab bahwa huruf bi merupakan huruf jar/khafadl yang memiliki kaitan atau ta’alluk dengan kalimat sebelumnya, maka huruf bi dalam ayat pertama surah al Fatihah ini tidak memiliki kalimat yang jelas yang dikaitkan dengannya atau yang diterangkan olehnya.), didisain oleh Allah sedemikian rupa, tetapi secara subtantif kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm merupakan suatu kesempurnaan sebagai kalimat keterangan (hal jumlatiyah) yang merangkum arti mendalam dan cakupan makna yang dapat diinterpretasikan secara luas dan applicable untuk diaktulisasikan dalam keseharian Anda sebagaimana penjelasannya akan Anda dapatkan dalam bagian-bagian selanjutnya dari buku ini.

Kata ”Mengingat”, ”Menyebut”, ”Karena” dan ”Atas Nama” dalam Terjemahan Bismillâhir-rahmânir-rahîm.

Sebelum berlanjut pada pembahasan kalimat ismi, seringkali dipertanyakan mengenai adanya penambahan kata dalam penerjemahan bebas dari bunyi teks aslinya (harfiahnya). Terjemahan Bismillâhirrahmânirrahîm secara harfiahnya adalah dengan nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Terjemahan bebasnya menjadi:

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang
2. Dengan mengingat nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang
3. Karena nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang
4. Atas nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang

Permasalahan pertama adalah mengenai perbedaan makna dari kata menyebut dan kata mengingat. Meskipun keduanya dalam bahasa Arab berbentuk sama yaitu dzakara atau dzikr, namun berbeda dari makna yang dicakupnya. Menyebut dan mengingat adalah satu dalam bentuknya yaitu kata kerja. Perbedaannya adalah dari segi sarana atau alat untuk melakukannya.

Menyebut adalah aktifitas fisiologis yang dilakukan dengan menggunakan salah satu subsistem dari anggota badan fisik manusia yaitu mulut yang mencakup di dalamnya lidah, langit-langit mulut dan pita suara yang tedapat pada batang leher bagian atas, hingga menimbulkan suatu bentuk getaran yang disebut suara dan sampai pada alat indra pendengaran yaitu telinga.
Mengingat merupakan aktifitas psikologis atau kejiwaan (dan beberapa bagian otak manusia bekerja untuk itu) yang prosesnya berlangsung dalam hati (Hati dalam konteks ini bukan hati dalam bentuk fisik (leaver), melainkan merupakan potensi aktualnya untuk mengingat dan berfikir) atau akal pikiran manusia. Sesuatu yang diingat tidak selalu harus disebutkan secara verbal atau diungkapkan secara lisan yang terlahir dalam bentuk ucapan. Sebaliknya, apa yang diucapkan atau disebut secara lisan tidak selalu merupakan buah dari fikiran atau hasil dari ingatan seseorang yang mengucapkannya. Mungkin Anda pernah mendengar suara orang yang mengigau (ngalindur) dalam tidurnya, padahal ia sendiri tidak tahu mengenai apa yang diucapkannya dan mengapa ia mengucapkannya.

Pembahasan Tambahan Kata Menyebut
Adanya kata menyebut atau mengingat dalam sebagian terjemahan tidaklah dimaksudkan sebagai suatu usaha menambah-nambah. Usaha ini dilakukan untuk membantu pembaca terjemah agar memahami maksudnya. Walaupun demikian hendaklah hati-hati karena terjemahan Al Qur’an bukanlah Al Qur’an itu sendiri secara teksnya (Tadabburilah QS. 13:37, QS. 41:3, QS. 41:44, QS. 43:3, QS. 42:7, QS. 39:28, QS. 26:195, QS. 20:113, QS. 12 : 2, dan QS. 46 : 12 ). Salah satu cara untuk memenuhi kehati-hatian ini adalah dengan memberikan tanda kurung buka dan kurung tutup pada kata yang yang ditambahkan sebagai penjelas maksud si penerjemah terhadap ayat yang diterjemahkannya.
Secara argumentatif, penambahan kata menyebut untuk menerangkan, tidaklah keliru, karena dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan pada pemahaman dari Surah Al ’Alaq ayat pertama.
Ketika ayat ini turun, ayat-ayat al Qur’an belum tertuang dalam bentuk huruf dan tulisan sebagai simbol bunyi sebagaimana adanya saat ini. (Mengenai ayat pertama yang diwahyukan banyak golongan berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan Al ‘Alaq, sedangkan yang lain Al Fatihah. Ayat manakah yang terlebih dahulu diwahyukan kepada Nabi Muhammad –dari segi praktis amaliah—manusia tidak akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) oleh Allah mengenainya. Tetapi dari segi ilmiah, ia menjadi salah satu kajian yang dianggap penting dalam bidang tafsir) Oleh karena itu, penekanan perintah dalam ayat pertama Al ’Alaq ini (pada saat diturunkannya) adalah untuk dilafalkan oleh lidah, meskipun pada kenyataannya membaca bisa saja dilakukan di dalam hati, tanpa menggerakkan lidah dan mengeluarkan suara.
Pemahaman ini juga diperkuat berdasarkan firmanNya:

Maka makan dan minumlah dari apa-apa yang telah disebut nama Allah atasnya jika kamu beriman terhadap ayat-ayatNya. (QS. 6 Al Maidah : 118)

Kalimat dzukira ’ala berarti dilafalkan secara jelas oleh lisan sehingga kalimat mimma dzukirasmallahi ’alaihi dalam ayat di atas tidak diterjemahkan menjadi: ”yang telah diingati /diingatkan nama Allah atasnya” melainkan diterjemahkan menjadi: ”dari apa-apa yang telah disebutkan nama Allah atasnya”. Berangkat dari pemahaman ini maka terjemahan Bismillâhirrahmânirrahîm menjadi ”dengan (menyebut) nama Allah Yang Mahapengasih Maha Penyayang”.

Pembahasan Tambahan Kata Mengingat
Mengingat dalam artian menghayati dan menjiwai dengan penuh konsentrasi (khusyu’), tertuang dalam tiga tempat, yaitu QS. 73 Al Muzammil : 8, QS. 76 Al Insan : 25 dan QS. 87 Al ‘Ala : 15.
Kata ingatlah atau mengingat dalam tiga ayat tersebut menggunakan kata udzkur dan dzakara yang juga bisa saja diartikan dengan “sebutlah” dan “menyebut”, tetapi stressing untuk menyebut secara lisan biasanya ditambah huruf ‘alâ seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya. Karena itu kata udzkur dan dzakara dalam tiga ayat di atas lebih difahami sebagai “ingatlah” dan “mengingat”. Apa yang diingat tentu saja tidak mutlak harus diucapkan secara verbal, tetapi cukup hanya di dalam hati saja. Bertitik tolak dari pemahaman ini maka Bismillâhirrahmânirrahîm diterjemahkan menjadi ”dengan (mengingat) nama Allah Yang Mahapengasih Maha Penyayang”.

Pembahasan Huruf ”Bi” Diterjemahkan ”Karena”
Salah satu fungsi huruf bi adalah menunjukkan sebab (causality). Contoh bi kausalitas seperti dalam firmanNya:
Maka karena rahmat dari Allah engkau bersikap lembut kepada mereka. QS. 3 Ali Imran : 159.
Oleh karena bi adalah sababiyah maka penerjemahannya menjadi ”karena nama Allah Yang Mahapengasih Maha Penyayang”, mengindikasikan adanya faktor penyebab dan motivasi yang mendasari adalah nama Allah, bukan selain Allah.

Pembahasan Huruf ”Bi” Diterjemahkan ”Atas Nama”
Maksud kata ”atas” dari huruf bi bukan untuk menunjukkan keterangan tempat seperti di atas atau di bawah sesuatu, tetapi dimaksudkan sebagai suatu pengakuan atau ikrar bahwa ia yang mengucapkannya bertindak atas nama Allah dalam melakukan suatu tindakan bukan atas nama dirinya pribadi, seperti yang telah dicontohkan dalam kisah Nabi Sulaiman pada QS. 27 An Naml : 30. Difahami demikian berdasarkan tinjauan dari misi dan fungsi yang diembankan Allah kepadanya berupa misi kenabian atau kerasulan serta fungsi kekhalifahan Nabi Sulaiman.

Selengkapnya......

Jumat, 23 Januari 2009

Makna Huruf Bi dari Bismillah

Ayat pertama surah Al Fatihah merupakan kalimat pendek yang terdiri dari satu huruf bi, dan empat kata: ism, Allah, Arrahmân dan Arrahîm. Dalam satu ayat yang sangat ringkas ini terkandung muatan makna dan arti yang luas. Ikhtiar untuk menalaah dan menghayatinya dengan kebeningan hati dan sepenuh jiwa semoga dapat mengundang rahmat serta pertolongan Allah untuk dapat diamalkan. Karena Bismillâhirrahmânirrahîm adalah ayat Al Quran dan Al Qur’an itu sendiri berbahasa Arab (QS. 26:195), tinjauan dari sudut pandang tatabahasa Arab tidak dapat dihindari, dan sebagai konsekwensi logisnya, penggunaan istilah gramatika Bahasa Arab (Qowâidullughah Al’arâbiyyah) untuk menjelaskannya tidak dapat diabaikan. Oleh karenanya, pada bab ini kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm akan dijelaskan secara perkata (lafdziyah), berdasarkan makna bahasa dan menurut ayat-ayat lain yang berkaitan dengannya.

1. Huruf Bi

Huruf Bi dalam beragam konteks kalimat.

Huruf bi adalah huruf kedua setelah huruf alif dalam urutan alfabet Arab. Dalam tatabahasa Arab huruf ini disebut huruf jar atau khofad (Huruf jar/kofadl biasanya selalu memasuki katab benda (ism). Memiliki fungsi menjarkan atau mengkhafdlkan isim yang dimasukinya dengan memberikan harokat atau syakal kasroh (dalam bahasa sunda disebut je-er) kepada kata benda yang diikutinya. Contohnya adalah bi memasuki lafad al-amsu menjadi bil-amsi, tidak bil-amsa atau bil-amsu,), yang memiliki ikatan atau hubungan (ta’alluk) dengan kata sebelumnya. Huruf bi memiliki beberapa fungsi dan arti. Fungsi dan arti ini sesuai dengan konteks kalimat dimana huruf bi disertakan. Terdapat delapan makna huruf bi (Al Jurjany, Tashiil Nailil Amany Fi Syarhi Awaamil Jurjany, Daar Ihya-il Kutubil ‘Arobiyyah, tth., Jakarta, h.5) yang penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Makna ilshâq haqiqiyah yaitu kemelekatan atau bersentuhan secara langsung dan secara fisik. Seperti kalimat: amsaktu bi Zaidin yang artinya aku memegang Zaid. Huruf bi dalam contoh kalimat ini menunjukkan sentuhan atau menempelnya tangan pada sebagian atau salah satu anggota badan si Zaid.

2. Makna ilshâq majazi untuk menunjukkan kemelekatan sesara majazi (kiasan), atau kedekatan secara fisik namun tidak bersentuhan. Contohnya kalimat marartu bi Umar, yang artinya aku melewati Umar. Huruf bi dalam kalimat ini menunjukkan adanya kedekatan, kebersamaan atau penyertaan meskipun tidak bersentuhan secara langsung.

3. Makna sababiyah (causality) yaitu bermakna sebab atau karena. Contohnya seperti firman Allah: Fa-bi-dzulmin minal ladzîna hâdu harramnâ alaihim thayyibâtin, yang artinya maka karena kedzaliman orang Yahudi, Kami haramkan kepada mereka barang yang baik-baik. (QS. 4:160). Huruf bi dalam contoh ayat ini menunjukkan sebab sehingga diartikan karena tidak diterjemahkan dengan.

4. Makna tab’idl, untuk menunjukkan arti sebagian, bukannya keseluruhan. Contohnya seperti firman Allah: ainay yasrabu bi-hâ ibâdullâh, yang artinya sumber (mata air) yang dari-nya hamba-hamba Allah minum.(QS. 76:6). Huruf bi dalam contoh ayat di atas tidak diterjemahkan “dengan”, tetapi diterjemahkan menjadi “dari”, yang memberikan pengertian bahwa air yang diminum dari mata air itu secara kuantitas adalah sebagiannya, tidak seluruhnya.

5. Makna at ta’diyyah, untuk membuat kata kerja intransitif menjadi transitif, contohnya seperti firman Allah: dzahaballahu bi-nuurihim, yang terjemahannya: Allah telah menghilangkan cahaya mereka. (QS. 2:17). Asal kata dzahaba yang artinya pergi (tanpa diikuti uruf bi) merupakan bentuk kata kerja yang tidak membutuhkan objek karena kata kerja dzahaba adalah kata kerja intransitif/fi’il lazim, karena ditambah huruf bi maka kata kerja ini menjadi kata kerja yang membutuhkan objek (kata kerja transitif/fi’il mutta’addy) yang yang dalam ayat di atas objeknya adalah kalimat “nuurihim” (cahaya mereka), sehingga pengertiannya menjadi adhaballahu nurahum, artinya Allah memadamkan cahaya mereka.

6. Makna dzarfiaytul makân untuk menunjukkan keterangan tempat. Contohnya seperti dalam firmanNya: wa laqad nasharakumullâhu bi-badrin wa antum adzillah... yang artinya dan sungguh Allah telah menolong kamu di Badar tatkala keadaanmu lemah. (QS. 3:123). Huruf bi sebelum kata Badrin tidak diartikan “dengan” melainkan di artikan “di”, untuk menunjukkan lokasi atau tempat diturunkannya pertolongan Allah.

7. Makna dzarfiyatuz zamân, untuk menunjukkan keterangan waktu. Contohnya seperti dalam frimanNya: ... najjainahum bisaharin. Yang artinya: ... Kami telah menyelamatkan mereka pada waktu sahur (dini hari). (QS. 54:34). Huruf bi dalam kalimat bisaharin dalam ayat di atas tidak diartikan “dengan sahur”, melainkan “pada/di waktu sahur”.

8. Makna lil-qasm, untuk sumpah. Contohnya seperti kalimat aqsamtu billahi, yang artinya: Aku bersumpah Demi Allah. Hurf bi dalam konteks ini berarti demi.

Syaikh Musthafa Al Ghulayayn dalam Jamiiud Duruusul Al Arabiyyah menyebutkan makna dan fungsi huruf bi lebih banyak lagi hingga mencapai 13 fungsi dan arti (Al Gulayayni, Syaikh Mushthafa, Jamii’u al Durusu al Arpbiyyah, Mansyurat al Maktabatu al ‘Ishriyyah, Shaida, Beirut, cetakan 21, 1987, Juz Tiga, hal 168 - 171).

Makna Huruf Bi Dalam Kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm

Adapun huruf bi dalam Bismillâhirrahmânirrahîm ini sangat unik, karena ia tidak memiliki kaitan atau hubungan (ta’alluk) dengan kalimat sebelumnya. Dimana tidak ada kalimat sebelumnya yang dicantumkan untuk menunjukkan keterkaitannya.

Tetapi setelah diketahui beberapa fungsi dan makna dari huruf bi di atas, setidaknya huruf bi dalam kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm memiliki dua makna, diantaranya:

1. Lil-mai’yyah/lis-shahâbah, sebagai penyertaan sehingga terjemahannya menjadi disertai nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Artinya untuk menyatakan bahwa Anda selalu ingin ditemani atau disertai Allah. Keinginan ini akan memotivasi Anda untuk menjalani kehidupan sebagai hamba Allah. Dengan menjadikan pelbagai kesempatan hidup untuk semata-mata beribadah kepada Allah, maka Anda akan selalu ditemani oleh Allah: baik dalam keadaan suka maupun duka; dalam keadaan seorang diri maupun sedang berada di tengah keramaian. Singkat kata, dalam pelbagai situasi dan kondisi. “Dan Dia selalu menyertai kamu di mana saja kamu berada.” Demikian, Allah berfirman dalam QS. 57 Al Hadid : 4.

2. Lis-sababiyyah, sebagai kausalitas yaitu bermakna karena atau menunjukkan penyebab, sehingga terjemahannya menjadi karena nama Allah Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Artinya untuk menyatakan bahwa apa yang anda lakukan sepenuhnya terdorong, tergerakkan atau termotivasi oleh Allah, bukan oleh sesuatu selain Allah. Secara tersirat, bi dalam Bismillâhirrahmânirrahîm pada konteks ini bermakna kemurnian dalam setiap perbuatan yang Anda lakukan dengan membaca Bismillâhirrahmânirrahîm sebelum melakukannya. Suatu bentuk refleksi dan implementasi dari makna ikhlas.

Sedangkan ditinjau dari dari maksud dan tujuan dari orang yang membacanya, setidaknya huruf bi ini memiliki dua fungsi, yaitu:

  1. Lil-ibtidâ’i, artinya untuk pernyataan memulai atau melandasi suatu pekerjaan yang akan anda lakukan. Sehingga sesederhana apa pun pekerjaan anda akan mempunyai akar, landasan atau pondasi yang bernilai ketuhanan. Sebab, semegah apapun karya manusia apabila tidak didasari oleh pondasi yang bernilai ketuhanan (Ilâhiah) atau tauhid, maka pekerjaan itu dinilai hampa, tidak bernilai, dan tidak bermakna, alias sia-sia (QS. 24:39). Karena setiap perkara yang mengandung nilai kebaikan tetapi tidak dilandasi dengan Bismillâhirrahmânirrahîm maka ia terputus dari rahmat Allah, tidak berakar dan tidak bergantung pada Dzat yang mememiliki rahmat dan berkah, serta tidak bernilai dan tidak bermakna dalam pandangan Allah.

Ahmad Musthafa Al Maraghy, memberikan komentar bahwa makna “aku mengawali perbuatanku ini dengan Bismillâhirrahmânirrahîm bahwasanya aku melakukan perbuatan ini atas perintah Allah dan karena mengharap keridoan Allah, bukan atas namaku sendiri dan bukan karena dorongan hawa nafsu pribadiku”. Makna ini mengandung maksud bahwa ”kekuatan (quwwah) dan kemampuan (qudrah) untuk melakukan perbuatanku adalah datang dan bersumber dari Allah, seandainya Allah tidak memberikan quwwah dan qudrah kepadaku, niscaya aku tidak akan mampu untuk melakukannya. Maka dengan mengawali dengan Bismillâhirrahmânirrahîm ini aku berlepas diri dan tidak mengklaim bahwa apa yang kulakukan ini atas namaku, tetapi apa yang kulakukan ini hanya atas namaNya, karena aku samata-mata hanya bersandar atas kekuatan dan pertolongan (ma’unah) dari Allah, seandainya tidak demikian, aku tidak akan pernah mampu dan berkuasa untuk melakukannya”. (Al Maraghy, Ahmad Musthafa, Tafsir Al Maraghy, Jilid 1, Daar Al Fikr, Tth, hal. 28)

Adapun maksud dari diposisikanNya Bismillâhirrahmânirrahîm pada setiap awal surah Al Qur’an, yang mengandung hukum-hukum dan syari’at, akhlak dan adab serta mauidzah (nasihat-nasihat) seluruhnya adalah bahwa Al Qur’an mutlak milik dan buatan Allah dan bersumber hanya dari Allah, tidak ada sesuatupun atau seorangpun yang terlibat di dalamnya. Seolah-olah Dia berfirman: ”Wahai Muhammad, bacalah surah ini dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang” yaitu ”Bacalah surah ini yang bersumber hanya dari Allah bukan dari dirimu, karena Allah menurunkannya kepadamu agar engkau membimbing umatmu dengan Qur’an ini kepada apa yang terkandung di dalamnya untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. ”. (Al Maraghy, Ahmad Musthafa, Tafsir Al Maraghy, Jilid 1, Daar Al Fikr, Tth, hal. 28)

Demikian pula Nabi Saw memaksudkan membaca Bismillâhirrahmânirrahîm ini bahwasanya ia membacakan surah ini kepada mereka semata-mata atas perintah Allah dan atas nama Allah bukan atas nama dirinya sendiri, karena beliau hanyalah seorang penyampai Al Qur’an (Al Maraghy, Ahmad Musthafa, Tafsir Al Maraghy, Jilid 1, Daar Al Fikr, Tth, hal. 28) sebagaimana firmanNya:

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al Quran. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan". QS. 27 An Naml : 91-92

  1. Lil-isti’ânah, artinya untuk memohon pertolongan Allah. Ketika Anda hendak memulai suatu pekerjaan, lalu anda awali dengan membaca Bismillâhirrahmânirrahîm seraya Anda maknai dan Anda niatkan untuk memohon pertolongan Allah, maka sesulit apa pun pekerjaan Anda pasti akan diback up atau ditolong oleh Allah. Ketika Anda bekerja dan pekerjaan Anda ditolong oleh Allah, maka yang sulit akan terasa mudah; yang berat akan terasa ringan; yang jauh akan terasa dekat; yang kompleks akan terasa sederhana. Secara psikologis, Anda juga tidak akan merasa terbebani. Sebab, Anda akan menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada Anda bukan semata-mata karena instruksi atasan, bukan semata-mata untuk dipertanggungjawabkan kepada makhluk (manusia). Tetapi pada hakikatnya bertanggung jawab secara langsung kepada Allah. Karena itu, target yang Anda harapkan pun bukan semata-mata terbaik menurut penilaian manusia, tapi terbaik dalam pandangan Allah. Sesuatu yang dinilai baik oleh manusia belum tentu dinilai baik oleh Allah (QS. 4:19) Tetapi, sesuatu yang terbaik menurut Allah sudah pasti terbaik pula bagi manusia yang berpikiran objektif dan berakal sehat.


Selengkapnya......

Kamis, 15 Januari 2009

Mengapa Tafsir Qur'an bil Qur'an ?

Dari sekian banyak metode dan pendekatan tafsir, metode tafsir Qur'an bil Qur'an merupakan yang terbaik dan harus lebih diutamakan... Mengapa ?

Beberapa Argumen Mengapa Memakai Metoda Tafsir Quran bil Quran

Argumen mendasar mengapa pendekatan dan metode pembahasan yang dipakai hanya penafsiran Quran bil Quran adalah karena beberapa alasan berikut:

  1. Allah adalah yang membuat dan menurunkan Al Qur’an, maka hanya Allah yang lebih mengetahuinya. FirmanNya: Diturunkan dari Dzat yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi. QS. 20 Thaha: 4. Oleh karena itu penulis mengembalikannya kepada informasi Allah dalam ayat-ayatNya yang lain.
  2. Kewajiban menjelaskan/membayan Al Qur’an adalah tanggungan Allah, bukan tanggungan malaikat atau manusia, sebagaimana dinyatakan Allah: Janganlah engkau gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa dengannya, sesungguhnya tanggungan Kami mengumpulkannya dan membacakannya, maka jika Kami telah membacakannya maka ikutilah bacaannya, sesungguhnya tanggungan Kamilah menjelaskannya. QS. 75 Al Qiyamah : 16-19. Kalimat menjelaskannya dalam ayat di atas adalah menjadi tanggungan Allah, sebagaimana Dia telah menanggung pengumpulan ayat-ayat Al Qur’an dan sebagaimana Allah telah menanggung untuk membacakan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Kata ganti: “nya” dalam seluruh ayat di atas adalah Al Qur’an, bukan selain Al Qur’an, hal ini dijelaskan dengan firmanNya: Mahatinggi Allah Yang Mahamerajai Yang Mahabenar, dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum wahyuNya disempurnakan kepadamu, dan katakanlah: Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku. QS. 20 Thaha:114. Ayat ini dijadikan penafsir untuk mencari tahu kata ganti “nya” yaitu Al Qur’an, karena adanya relevansi yang sangat jelas berupa kata kunci ‘ajjala (tergesa-gesa) dan tema yang sama mengenai larangan tergesa-gesa menyelesaikan bacaan Al Qur’an.
  3. Al Qur’an merupakan wahyu yang tidak hanya berisi petunjuk saja, tetapi juga berisi tentang penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk yang dikandungnya (bayyinaatin minal huda). FirmanNya: Bulam Ramadlan yang pada bulan itu Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta sebagai pembeda. QS. 2 Al Baqarah : 185.
  4. Al Qur’an diklaim sudah lengkap oleh Allah. FirmanNya: Tidaklah Kami lewatkan sesuatupun dalam Al Kitab. QS. 6 Al An’am : 38
  5. Al Qur’an diklaim Allah sebagai kitab yang sudah sempurna, sehingga tidak membutuhkan penyempurna. FirmanNya: Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu sebagai firman yang benar dan adil, tidak ada yang dapat merubah firmanNya, dan Dialah Yang Mahamendengar, Mahamengetahui. QS. 6 Al An’am : 115.
  6. Al Qur’an merupakan penjelasan segala perkara. FirmanNya: dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab sebagai penjelasan segala perkara dan sebagai petunjuk dan rahmat serta sebagai kabar gembira bagi orang-orang Islam. QS. 16 An Nahl : 89. Dalam ayat ini digunakan lafad tibyân (penjelas) yang maknanya membuat terang sesuatu sehingga menjadi lebih jelas dari sebelumnya.
  7. Al Qur’an merupakan perincian segala perkara. FirmanNya: Dalam kisah-kisah mereka sungguh terdapat pelajaran bagi yang berakal. Al Qur’an bkanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya dan perincian segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS. 12 Yusuf : 111. Kata tafshîlan berati merinci sesuatu, sehingga sesuatu itu menjadi jelas secara terperinci dan terang secara mendetail. Nabi Muhammad sendiri telah bersabda sesuai dengan apa yang telah diceritakan Allah dalam Al Qur’an: Apakah akan aku cari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunukan kitab yang terperinci kepadamu. Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab itu mengetahui bahwa Kitab itu diturunkan dari Tuhanmu dengan haq, maka janganlah kamu menjadi golongan orang-orang yang membantah. QS. 6 Al An’am : 114.
  8. Adanya ancaman Allah berupa celaan atau laknat bagi manusia yang dengan sengaja menyembunyikan Al Qur’an juga dengan sengaja menyembunyikan penjelasan-penjelasan Allah yang terdapat dalam Al Qur’an. FirmanNya: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari penjelasan-penjelasan dan petunjuk setelah kami menjelaskannya dalam Kitab, mereka itulah orang-orang yang dicela Allah dan mencela kepada mereka orang-orang yang mencela. QS. 2 Al Baqarah : 159
  9. Mengikuti teladan/uswah hasanah Nabi Muhammad yang selalu memberikan penjelasan dengan Al Qur’an, bukan dengan asumsi pribadi atau keinginan hawa nafsu. FirmanNya: Dan telah Kami turunkan kepadamu Adz Dzikra agar engkau menjelaskan kepada mereka, agar mereka dapat berpikir. QS. 16 An Nahl : 44. Kalimat wa anzalnaa ilaikadz dzikra merupakan kalimat lengkap, subjeknya adalah kata ganti (dlamir) naa (Kami), predikatnya kata kerja anzala, dan objeknya adalah adz dzikra dan ilaika, sedangkan kalimat seterusnya adalah keterangan dalam bentuk jumlah yang menjelaskan fungsi diturunkannya Al Qur’an atau adz Dzikro, yaitu sebagai alat Rasulullah Muhammad untuk menjelaskan beragam permasalahan yang dihadapinya. Dan firmanNya: Dan tidaklah Kami turunkan kepadamu al Kitab kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS. 16 An Nahl : 64. Rasululullah Muhammad dibekali Al Qur’an untuk dapat menjelaskan kepada manusia mengenai perkara-prekara yang terjadi atau yang dipertanyakan di antara kaumnya kepadanya. Tidaklah Al Qur’an diturunkan kecuali agar Rasulullah dapat menjelaskan dengan wahyu Al Qur’an. Al Qur’an dengan demikian menjadi alat Rasulullah Muhammad untuk menjelaskan.
  10. Adanya Perintah Allah harus merasa cukup dengan Al Qur’an. FirmanNya : Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan Al Kitab sedang ia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al Qur’an itu terdapat rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. QS. 29 Al Ankabut : 51. Ayat ini benar-benar ditujukan bagi siapa saja yang merasa tidak cukup hanya dengan Al Qur’an. Kesimpulannya adalah bahwa Allah memandang cukup dengan diturunkannya Al Qur’an bagi manusia. Karena harus cukup dengan hanya Al Qur’an sesuai dengan keinginan Allah dan pesan Nabi Muhammad di atas, maka hanya Al Qur’an sajalah yang dipakai untuk mencari penjelasan tentang kalimat Bismillâhirrahmânir rahîm dengan ayat-ayatNya yang lain.
  11. Ayat-ayat Al Qur’an merupakan tafsir terbaik bagi ayat-ayatNya yang lain, menurut Allah dan Rasulullah Muhammad Saw. FirmanNya: Dan tidaklah mereka mengajukan perumpamaan kepadamu, melainkan Kami datangkan kepada engkau al haq dan yang paling baik tafsirnya. QS. 25 Al Furqan : 33. Kata al haq dalam ayat ini adalah Al Qur’an karena pada ayat sebelumnya yaitu ayat 32 dalam surah yang sama , berbicara tentang jawaban terhadap pertanyaan atau permintaan orang-orang kafir mengenai proses diturunkannya Al Qur’an mengapa tidak secara keseluruhan atau langsung sekaligus. Dengan demikian Allah telah memberikan Al Qur’an dimana ayat-ayatnya satu sama lain merupakan tafsir atau penjelasan yang sangat baik (Ahsana Tafsîra).

Tafsir Qur’an Bil Qur’an adalah Tafsir Terbaik
Metoda tafsir Qur’an bil Qur’an adalah metode yang terbaik dan telah digariskan Allah dan secara otomatis telah dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad. Konsekuensi logis dari pemahaman ini adalah bahwa hendaknya setiap muslim memandang dan memahami Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang lengkap dan utuh. Memahaminya secara komprehensif sebagai suatu keseluruhan (holistik / kâffah), secara integral, tidak parsial atau sebagian-sebagian dimana satu ayat tidak dapat dipandang berdiri sendiri tanpa adanya tunjangan berupa penjelasan dari ayat-ayat Al Qur’an yang lain. Alasan yang mendasari kesimpulan ini adalah firmanNya:
...Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan inkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian kecuali kenistaan di dunia ini dan pada hari akhir mereka akan dijerumuskan ke dalam siksaan yang amat pedih dan Allah tidak pernah lengah terhadap apa yang kamu amalkan. QS. 2 Al Baqarah : 85.

Alasan lainnya adalah jika tidak menggunakan tafsir Qur’an bil Qur’an, dikhawatirkan munculnya penyelewengan, ketidaktepatan dan ketidakakuratan pemahaman terhadap satu atau beberapa ayat yang ditadabburi.

Karena itu Dr. Muhammad Quraish Shihab berpendapat, bahwa hendaknya tidak dengan mengarahkan pandangan dari ayat ke ayat secara parsial, karena setiap ayat dapat memberi peluang makna yang berbeda sesuai dengan tempat berpijak (ponit of view) pemandangnya (Shihab. M. Quraish, Dr., Membumikan Al Qur’an, Mizan, Bandung, Cetakan XI, Desember, 1995, h.). Tanpa meninjau satu ayat dengan ayat lain, sebab satu ayat yang tengah dikaji dapat menjadi bersifat multi-interpretatif.

Contoh sederhana misalnya ketika mengutip satu ayat yang menyatakan bahwa celakalah bagi orang-orang yang melakukan salat [titik] (QS. 107:4). Tanpa meninjau kembali ayat sebelum dan kelanjutannya atau seluruh ayat lain yang berkaitan dengannya dalam masalah salat.

Contoh lainnya adalah ketika mendapati kalimat sampai jelas bagimu benang putih dari benang hitam [titik] (QS. 2:187). Konon kabarnya seorang sahabat Nabi yang bernama ‘Ady bin Hatim merasa kebingungan dengan ayat ini dan mencari benang berwarna hitam dan putih untuk dibandingkan sebagai usaha untuk memahami ayat ini. (Faudah, Muhammad Basuni, Dr., Tafsir-tafsir Al Qur’an, Perkenalan dengan Metodologi Tafsir, Pustaka, Bandung 1987, h. 8)

Menurut hemat saya hal ini tidak mungkin terjadi, sebab masih dalam satu kesatuan ayat yang sama dituturkan adanya kalimat minal fajri (dari waktu fajar). Ayat selengkapnya berbunyi:
... Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagimu daripada benang hitam dari waktu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.... (QS. 2 Al Baqarah : 187).

Bisa saja hal tersebut terjadi jika, dan hanya jika, kalimat dalam ayat itu dibaca oleh Ady bin Hatim sebagian saja dan diabaikan kelanjutan ayatnya dari keseluruhan satu ayat secara penuh atau ayat lain yang sejiwa dengan itu. Dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa sahabat Ady bin Hatim membaca ayat ini secara parsial, tidak kâffah.

Tafsir Qur’an bil Qur’an yang saya ulas dalam buku (blog) ini merupakan pendekatan metodis kajian dan pembahasan bagi tema sentral dari kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm, yaitu kasih sayang atau rahmat Allah. Meskipun membutuhkan ketekunan dan kejelian dalam mencari ayat-ayat yang serupa baik secara tekstual maupum kandungan maknanya yang berhubungan dengan tema pokok yang disajikan, Alhamdulillâh karena rahmat dan inâyah-Nya semata buku ini dapat hadir kehadapan Anda melalui blog ini.



Selengkapnya......

Tafisr Qur'an bil Qur'an

Upaya menafsirkan Al Qur’an banyak dilakukan terutama setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Terdapat banyak kitab-kitab tafsir dengan beragam misi, pendekatan metode dan corak yang berbeda-beda. Akan tetapi usaha dalam menafsirkan dan mencari penafsiran Al Qur’an hendaknya tidak gegabah atau sembarangan. Meneliti Al Qur’an tidak hanya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara syari’ah

Defenisi Tafsir
Tafsir secara bahasa berarti ta’wil, pembukaan (yang maksudnya adalah menyingkapkan dari sesuatu yang menghalangi), penerangan, penjelasan, pensyarahan (Al Munjid Fil Lughati wal ‘Alam, Daar El Machreq, Sarl Publisher, Beirut Lebanon, 1992, cetakan 33 h. 583).
Dalam Lisânul Arab disebutkan bahwa tafsir adalah al fasrul bayân, yakni keterangan yang memberikan penjelasan. Fassara syai-a berarti abânahu, yaitu menjelaskannya. Ada juga yang mendefinisikannya dengan kasyful mughthi yaitu usaha untuk menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi, dan kasyful murâd ‘anil musykil yaitu mengungkapkan maksud dari suatu lafadz yang pelik (Faudah, Muhammad Basuni, Dr. Tafsir-tafsir Al Qur’an, Perkenalan dengan Metodologi Tafsir, Pustaka, Bandung 1987 hal. 1)
Salah satu contoh hasil dan bentuk penafsiran misalnya tentang apakah maksud kalimat dzulmun ‘adzhîm (kedzaliman yang sangat besar) yang terdapat dalam ayat yang berbunyi:

Sesungguhnya syirik itu sungguh merupakan kedzaliman yang sangat besar. QS. 31 Luqman : 13.

Secara tematis, dapat ditelusuri ayat lain yang mengenai syirik sebagai penafsirnya. Diantaranya adalah kedua ayat berikut:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki, dan barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar. QS. 4 An Nisa : 48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki, dan barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat, dengan kesesatan yang sangat jauh. QS. 4 An Nisa : 116

Dengan demikian dzulmun ‘adhîm (kedzaliman yang sangat besar) ditafsirkan sebagai dosa yang tidak akan diampuni Allah sebagai dosa yang sangat besar dan kesesatan yang amat jauh.

Selayang pandang Metode Tafsir Al Qur’an.
Upaya menafsirkan Al Qur’an banyak dilakukan terutama setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Terdapat banyak kitab-kitab tafsir dengan beragam misi, pendekatan metode dan corak yang berbeda-beda. Akan tetapi usaha dalam menafsirkan dan mencari penafsiran Al Qur’an hendaknya tidak gegabah atau sembarangan. Meneliti Al Qur’an tidak hanya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara syari’ah (Drs. H. U. Saefudiin ASM, Metoda Penelitian Tafsir Al Qur’an, Yadia, Bandung, 1993 h.1).

Para ahli dalam bidang tafsir Al Qur’an telah meletakkan beberapa dasar metoda penafsiran Al Qur’an yang secara garis besarnya terbagi ke dalam empat metode: Tekstual, Tematis, Tafshil dan Bungarampai.(ibid hal. 5)

Metoda Tekstual
Metoda tekstual merupakan metode penafsiran Al Qur’an yang disesuaikan dengan susunan tartib ayat mulai dari surah al Fatihah hingga surat terakhir. Bentuk tafsir ini tidak dipengaruhi judul atau tema. Contohnya tafsir Al Marâghy, At Thabary, Tanwiirul Miqbas, Al Qasimi, Fathul Qâdir, Al Baidlâwi dan Al Râzy.

Metode Tematik
Metode tematik adalah metode penafsiran al Qur’an secara maudlu’i yaitu menafsirkan Al Qur’an tidak secara susunan tartib ayat sesuai dengan susunan mushaf Al Qur’an, tetapi berdasarkan tema atau sistematika pembahasan. Contohnya Tafsir Ayat Kauniyah, Tafsir Ayat Ahkam dan Ahkâmul Quran.

Metode Tafshil
Merupakan bentuk tafsir yang mengklasifikasikan atau mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan topik, yang disusun berdasarkan apa yang ditemukan dalam proses penganalisaan ayat. Bentuk tafsir ini biasanya penafsirannya tidak begitu luas karena terbatasi oleh topik yang dibahas. Contohnya Tafsir At Tartib wal Bayan, Tafshil Âyil Quran dan Al Mu’jamul Maudlu’i fii Âyatil Qur’an.

Metode Bunga-rampai
Tafsir semacam ini disusun tidak berdasarkan tema atau topik, tidak juga berdasarkan susunan ayat melainkan hanya berdasarkan apa yang didapat penulisnya yang dianggap penting dan menarik untuk ditafsirkan. Contohnya Tafsir Ibnu Athiyah, Tafsir Ibnu Taimiyah dan Tafsir Mahmud Saltut.

Selayang Pandang Pendekatan Tafsir Al Qur’an
Ditinjau dari sudut pandang pendekatannya, tafsir Al Qur’an terdiri dari dua pendekatan, yaitu pendekatan riwâyah dan pendekatan dirâyah.

Pendekatan Riwâyah
Pendekatan Riwayah adalah penafsiran Al Qur’an secara ma’tsur atau manqul dimana penjelasan yang dianggap sudah ada pada zaman Rasulullah dan/atau para sahabatnya diinvertarisir dan dikutip. Dengan demikian, pendekatan dalam metode ini lebih menitikberatkan dan mengutamakan kutipan-kutipan informasi yang dipandang sebagai peninggalan Rasulullah dan sahabatnya dan juga diyakini bersumber dari Rasulullah dan para sahabatnya. (ibid hal. 6)

Kaifiat yang ditempuh dalam pendekatan ini terbagi dalam empat tahapan, diantaranya:

  1. Menafsirkan satu atau beberapa ayat dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an yang lain, karena setiap ayat Al Qur’an saling menjelaskan satu sama lain.
  2. 2. Merasa tidak cukup dengan tafsir ayat yang lain atau merasa tidak mendapatkannya dalam ayat Al Qur’an yang lain sebagai penjelas/penafsirnya, maka dicari hadits-hadits yang bersifat qauli, fi’li maupun taqriri yang berkaitan atau terdapat kesamaan materi dengan ayat Al Qur’an.
  3. Apabila dari keseluruhan hadits tidak didapatkan penafsirnya, atau dirasa kurang penjelasannya, maka dicarilah pendapat/penafsiran para sahabat Nabi. Argumen yang mendasari langkah ketiga ini karena para sahabat Nabi dianggap lebih mendekati kebenaran dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, dipandang mendekati kebenaran karena hidup sezaman dan bertemu secara langsung dengan Nabi.
  4. Mencari penafsiran tabi’in jika langkah ketiga dirasa tidak cukup.

Tafsir yang menggunakan pendekatan riwayah contohnya Tafsir At Thabary, Al Baghawy, Ibnu Katsir, Al Samarqandi dan Ats Tsa’laby.

Pendekatan Dirâyah
Merupakan penafsiran Al Qur’an secara ra’yi yang dikenal dengan pendekatan aqliyah. Pendekatan ini lebih menekankan pada andalan kemampuan pemahaman makna ayat baik secara lahir atau makana yang tersurat maupun secara batin atau makna yang tersirat, mantuq dan mafhum ayat lebih diutamakan dari pada ma’tsur/manqul.
Penelitian dalam pendekatan ini mencakup paling tidak enam objek pengkajian, diantaranya ialah:
  1. Asal atau musytaq kalimat dengan menggunakan ilmu Sharaf (Ilmu Sharaf adalah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang berfungsi untuk dapat mengetahui asal atau akar kata, perubahan-perubahannya ke dalam bermacam-macam bentuk dan berbagai pola kata benda, kata sifat dan kata kerja (sighat, verb pattern) sekaligus perubahan arti yang terpengaruhinya).
  2. Makna harfiyah dengan menggunakan ilmu Ma’ani (Ilmu Ma’ani adalah ilmu retorika bahasa Arab untuk mengetahui keadaan-keadaan lafad/perkataan sehingga diperoleh kesesuian penunjukan lafad dengan situasi dan kondisi (muqtadhalhaal) serta keistimewaan suatu kalimat ditinjau dari makna yang dihasilkannya.)
  3. Susunan bahasa yang ditinjau dari segi i’rabnya dan ditinjau dari kedudukan atau jabatan kalimat dengan menggunakan ilmu Nahwu (Ilmu nahwu adalah cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang kedudukan atau jabatan kata dalam kalimat).
  4. Meninjau syiaqul kalam dan uslub (gaya bahasa) ayat.
  5. Menggali makna lahir dan makna batin ayat.
  6. Mencari implikasi ayat baik secara tafsir maupun ta’wil, sehingga memunculkan teori baru untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Sebagian ahli tafsir menyamakan antara tafsir dan ta’wil, namun sebagian ahli mebedakannya dengan mendefinisikan ta’wil sebagai upaya pencapaian makna ayat dengan mengandalkan usaha rasional dan dengan cara menundukkan teks di bawah pengaruh prapikir seorang penafsir/pembaca teks.
Tafsir yang menggunakan pendekatan ini contohnya Tafsir Ar Razy, Al Khâzin, An Nasafi, Al Jalâlain, Abu Hayyan, Al Alusi, An Naisabhury dan al Baidlâwy.

Reinterpretasi Bismillâh dengan Pendekatan dan Metoda Tafsir Qur’an bil Qur’an
Pendekatan Tafsir Qur’an bil Qur’an merupakan asimilasi atau gabungan antara pendekatan dirayah dengan salah satu pendekatan riwayah yaitu penafsiran satu atau beberapa ayat al Qur’an dengan ayat-ayat Qur’an yang lain, dengan menganalisa jabatan dan fungsi setiap kata dari kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm, mencari kaitan antara Bismillâhirrahmânirrahîm dengan ayat lain sebagai penjelas atau penafsirnya yang ditempuh dengan dua metode:

  1. Menggunakan kata kunci (key word) yang terdiri dari satu huruf bi, empat lafad yang terdiri dari lafad ism, Allâh, arrahmân dan arrahîm. Keempat kata kunci ini diteliti arti dan jangkauan makna harfiahnya kemudian digunakan untuk mencari kaitan dengan ayat-ayat yang lain sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Kesimpulan itupun tidak berdasarkan hanya pada satu ayat tetapi berdasarkan beberapa ayat yang lain yang saling mengokohkan dan menguatkan atau menafsirkan satu sama lainnya.
  2. Menginterventarisir ayat-ayat yang berkaitan atau bersesuaian dengan tema pokok bahasan yang terkandung dalam Bismillâhirrahmânirrahîm, memberikan tinjauan dan ulasan dari segi struktur kalimat, kandungan makna dan jika perlu dengan ayat lain yang tidak terkait dengan tema pokok bahasan namun bersinggungan secara erat dengan sub tema pokok bahasan.
Kedua metode ini digunakan sebagai alat analisa (tools of analysis) dalam penyusunan buku ini yang sekarang telah saya postingkan di blog ini. Dimana secara riwayah hanyalah Al Qur’an yang digunakan untuk menjelaskan dirinya sendiri, tidak yang lainnya, dengan tujuan agar nilai-nilai syari’ah Al Qur’an dapat dipertanggungjawabkan sebagai suatu kitab yang telah lengkap sempurna dan telah jelas sesuai dengan klaim Allah sendiri dalam kitabNya. Dan secara dirayah keterlibatan akal sangat berperan dalam menggali kandungan dan pengertian serta mencari kaitan dan keterhubungan dengan ayat lain, dengan tujuan agar nilai-nilai ilmiah dan objektifitas Al Qur’an dapat dipertanggung-jawabkan. Meskipun selalu terselip kemungkinan adanya kecenderungan unsur subjektifitas yang sedikit banyaknya akan mempengaruhi objektifitasnya, namun setidaknya penulis telah berikhtiar untuk meminimalisasi bahkan menetralisir sedapat mungkin subjektifitas itu dengan jalan membatasi diri pada limitasi argumen berupa ayat-ayat lain sebagai limit dan koridor hukum dan kebenaran, karena pengembalian permasalahan yang dibahas hanyalah kepada Al Qur’an itu sendiri.




Selengkapnya......